

Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa penduduk surga yang paling banyak adalah para fakir miskin. Hal ini memicu semangat beliau untuk selalu menyedekahkan makanan kepada mereka yang dekat dengan surga, terutama kepada mereka yang sering merasakan lapar di dunia ini.
Ketika makanan itu diterima oleh fakir miskin yang shalih, terutama anak yatim, maka makanan tersebut akan berubah menjadi energi positif untuk berbagai aktivitas ketaatan, sekaligus mendatangkan pahala bagi mereka yang memberi.
Jika kita berkunjung ke pelosok-pelosok, kita akan menemukan begitu banyak orang-orang shalih yang kesulitan mendapatkan makanan. Banyak di antaranya find di panti yatim kecil, di mana anak-anak ini tidak hanya kehilangan orang tua, tetapi juga bergantung pada kerentanan saudara-saudara mereka yang sendiri mengalami kemiskinan, agar bisa mengenyam pendidikan.
Namun, di balik tantangan itu, banyak panti yang berjuang keras untuk memberikan lebih dari sekadar pendidikan tanpa biaya. Di antara mereka, ada Panti Ummul Mukminin Hafsah yang terletak di Kp. Parumaan, Desa Parumaan, Kec. Alok Timur, Kab. Sikka, NTT. Untuk mencapai panti ini, kita harus menempuh perjalanan selama satu hari dari Labuan Bajo, melewati keindahan laut NTT yang menakjubkan. Di sinilah harapan-harapan baru bagi anak-anak yatim dipupuk.
Panti ini didirikan berkat inisiatif para pengajar di Pulau Parumaan, yang dikenal sebagai pulau pendidikan di antara pulau-pulau lain di Kabupaten Sikka. Di sana, pendidikan dari TK hingga SMP/MTs tersedia, menjadikan panti ini sebagai tempat tinggal bagi anak-anak yatim dan dhuafa dari pulau-pulau lain sehingga mereka dapat belajar dan mendapatkan pendidikan.
Menariknya, panti ini tidak memungut biaya apa pun untuk anak-anak yatim yang diasuh. Dalam keadaan sulit, mereka seringkali hanya mengandalkan daun kelor yang tumbuh di pulau tersebut sebagai makanan sehari-hari. Makan nasi dengan daun kelor menjadi sesuatu yang lazim karena mereka kekurangan sumber makanan yang memadai.
Pak Ramlan, salah satu pengurus panti, mengungkapkan bahwa mie dan telur bagi anak-anak panti itu adalah kemewahan. Mereka harus melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan mie dan telur, yang hanya tersedia di pasar Maumere setelah menyeberang laut.
Meski masih kecil, namun cita-cita anak-anak yatim ini sungguh mulia. Salah satunya adalah Ajis, yang ingin menjadi Ustadz untuk bisa mengaji dan mendoakan orang tuanya yang telah tiada. Ini adalah bukti dari dedikasi pengurus panti dalam membimbing anak-anak yatim agar tumbuh menjadi pribadi yang shalih dan shalihah.
Sahabat, kemuliaan anak-anak yatim selalu dijaga dan dilestarikan oleh Rasulullah SAW. Beliau senantiasa mendekat, berkumpul, dan bercakap-cakap dengan anak-anak yatim selama hidupnya. Rasulullah, yang telah dijamin surganya, sangat peduli terhadap mereka dan selalu memuliakan anak yatim, termasuk memberikan sedekah makanan sebagai bentuk kasih sayangnya.
Kita, yang belum terjamin surga, seringkali meremehkan amalan yang tampak sepele seperti ini. Padahal, tak terduga, dengan menyisihkan satu porsi makan saja, kita bisa mendapatkan ganjaran surga.
“Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap helai rambut yang disentuh tangannya.” (HR Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Hibban)
Mari kita raih keberkahan dengan menyantuni anak-anak yatim melalui sedekah satu porsi makan bagi mereka yang kurang mampu. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, bisa menjadi jembatan menuju surga.
![]()
Belum ada Fundraiser